Jumat, 16 Oktober 2009

analisis belalang (dissostura sp)



setelah meneliti sekitar 5 minggu tentang struktur tubuh belalang, cara gerak, ampe bagian2 terkecil, akhirnya ketemu juga apa yang dosen ingin.....mungkin seperti ini


tapi sayangnya tiap orang dalam kelompok membahas bagian badan yang berbeda....dan saya hanya membahas tentang perut belalang....kalo di sambungin ma arsitektur....bisa banget...

Senin, 30 Maret 2009

Sustainability@UKDW

Sustainability adalah salah satu syarat yang menentukan kualitas suatu bangunan atau ruang yang dalam konteks ini dilihat dari faktor elemen fisik, persepsi, aktifitas, dan waktu.
UKDW merupakan salah satu universitas kristen yang terdapat di Yogyakarta (informasi tentang kampus ini dapat dilihat pada website http://id.wikipedia.org/wiki/Ukdw . Bangunan gedung di UKDW dibagi kedalam beberapa blok. Telah terjadi berbagai perubahan pada bangunan UKDW ini. beberapa perombakan, penambahan, dan lainnya yang membuat bangunan kampus ini 'merubah wajahnya'. Yang menjadi permasalahannya adalah apakah kampus UKDW ini dapat tetap sustain pada tahun-tahun berikutnya?
Untuk mencari perkiraan dari ke’sustain’an ruang tersebut, kita lihat faktor-faktor sustainable dibawah.



Elemen fisik
Elemen-elemen fisik yang terlihat menyatu, walaupun bangunan-bangunan ini dibangun pada waktu yang berbeda, namun dapat terlihat bahwa faktor keserasian masih 'menyatukan' mereka. yang terlihat sangat jelas adalah pada kantilever yang ada di hampir seluruh kompleks bangunan UKDW ini.
Persepsi
Kampus ini merupakan tempat berbagai kegiatan ,pembelajaran (maksud saya disini adalah pembelajaran dalam berbagai bidang, karena hidup kita penuh dengan kata belajar).

Aktivitas
Kampus UKDW merupakan sebuah sarana pendidikan. namun selain aktivitas belajar, berbagai aktivitas lainnya berjalan untuk mendukung kegunaan utamanya sebagai sarana pendidikan.

Waktu
Dengan bermunculannya bangunan baru di kempus UKDW ini beberapa tahun ke belakang, maka tidak menutup kemungkinan bahwa pada tahun-tahun kedepan akan muncul pula bangunan-bangunan lainnya seiring dengan bertambahnya jaman dan tingginya kebutuhan akan belajar.

Sustainable architecture atau dalam bahasa Indonesianya adalah arsitektur berkelanjutan, adalah sebuah konsep terapan dalam bidang arsitektur untuk mendukung konsep berkelanjutan, yaitu konsep mempertahankan sumber daya alam agar bertahan lebih lama, yang dikaitkan dengan umur potensi vital sumber daya alam dan lingkungan ekologis manusia, seperti sistem iklim planet, sistem pertanian, industri, kehutanan, dan tentu saja arsitektur (Probo Hindarto: http://www.astudio.id.or.id/artkhus54sustainable_architecture.htm )

UKDW merupakan kampus yang berdiri ditengah hiruk pikuk kota Yogyakarta. Dengan posisinya sebagai sebuah sarana pendidikan, UKDW dapat dibilang telah menjadi kampus yang 'dibicarakan' oleh masyarakat. namun sampai sejauh mana dan siapa saja yang 'kenal' kampus ini?. Sosialisasi kampus ini dapat menjadi salah satu faktor yang dapat menjadikan kampus ini lebih 'sustain'.
menurut saya yang membuat sesuatu itu 'sustainable' adalah bagaimana ia bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. dengan kemampuan sosialisasi yang tinggi, sesuatu dapat memiliki tingkat adaptasi yang tinggi, sehingga ia dapat mengikuti dan bertahan.

Kamis, 12 Maret 2009

Msjid Besar UGM



Masjid Besar UGM memiliki desain yang unik pada bentuk bagunan dan ornamn lain yang menghiasinya. Kemegahan masjid ini terlihat pada bentuk atap yang unik dan pengaturan landscape dengan skala landscape yang cukup besar.



Berbeda dengan masjid-masjid lain pada umumnya, masjid yang terletak pada sisi timur kompleks UGM ini terlihat unik bila dilihat secara sekilas, namun bila kita perhatikan lagi dengan mata arsitektur, keunikan-keunikan tersebut dapat melemahkan kekuatan desainnya, khususnya desain yang berkaitan dengan filosofi agama Islam, dan sejarah salahuddin itu sendiri. seperti yang dituturkan oleh Rachmad Resmiyanto dalam blognya tentang bagaimana kedudukan salahuddin sebenarnya di masjid kampus ini?http://jsugmwatch.blogspot.com/2009_03_01_archive.html




Salah satu kekurangan dan terlihat sangat jelas adalah pada penataan landscape yang membuat masjid ini 'kurang' terlihat kemegahannya. Dengan posisi masjid yang berada beberapa meter diatas jalan raya membuat masjid ini tidak mampu memperlihatkan seluruh fasad bangunannya karena tertutup oleh tanah didepannya. Selain itu peletakan banyak pohon disekitarnya membuat masjid tersebut lebih bersifat 'terselubung' dan tertutup. Mungkin pengaturan landcape yang demikian sudah dirancang oleh arsiteknya dengan maksud dan arti-arti tersendiri yang membuat masjid ini memiliki kelebihan tersendiri. Namun hal ini dapat ditepis oleh 'kegunaan lain' dari majid ini yang merupakan tempat peristirahatan. Hal ini membuat masjid ini lebih bersifat terbuka, atau 'terbuka bagi yang tertutup'. Maksudnya terbuka bagi yang mau beristirahat yang biasanya sendiri. http://www.wisnu.staff.ugm.ac.id/blog/masjid-kampus-ugm/



Selain itu peletakan ruang-ruang service yang ada dapat membuat pengunjung yang pertama kali datang kesana merasa bingung karena jalur yang disediakan untuk menuju ruang service dan peletakan ruang service yang susah dijangkau oleh pengunjung.



Berbeda dengan masjid lain pada umumnya, biasanya masjid memiliki sifat 'menerima' dan 'terbuka'. Namun masjid ini malahan lebih tertutup. mungkin desain yang demikian memiliki filosofi lain, hal ini membuktikan bahwa kelebihan dapat menjadi kekurangan.

Mungkin belum ada artikel yang mengkritik tentang masjid UGM ini, namun besar harapan saya agar ktitik dimasukkan ke dalam kategori 'kritik yang membangun'. terimakasih


Rabu, 26 November 2008

forgotten hallway




The Forgotten Hallway........Sebutan ini mungkin cocok untuk ruang ini.
Ruang yang terletak di belakang kampus UKDW Yogyakarta ini memang selalu terlihat kosong, dan tidak produktif. Entah bermula dari ide yang seperti apa, namun di lorong ini terdapat sebuah beton berukuran kurang lebih 80/300cm dengan sink di tengahnya. Mungkin pada awalnya ruang ini diperuntukan sebagai area servis, namun dengan keadaannya yang kurang terawat, maka pendapat saya tersebut dapat ditepis dengan mudah.

…Lalu tempat apakah ini…???


Lorong yang panjang dan terlihat sempit ini terlihat berangsur-angsur hanya menjadi tempat pembuangan barang-barang yang tidak terpakai.
Jika dikaitkan dengan pengalaman saya di stasiun Tawang Semarang dulu, tempat ini sangat bertolak belakang dengan pengaturan dan perencanaan landscape di Tawang. Atau mungkin ini hanya tanah sisa dari pembangunan gedung atau memang diperuntukkan untuk sesuatu.

….Saat ini semua itu masih misteri

Selasa, 11 November 2008

tugas teori arsitektur 1

Stasiun kereta api 'Tawang' adalah sebuah stasiun kereta api tertua di ibukota Jawa Tengah, Semarang. Setelah mengunjungi tempat ini, saya mendapatkan beberapa masukan baru tentang perancangan ruang dan 'landscaping' yang mungkin memberikan saya satu cara pandang baru tentang perancangan ruang. Megahnya stasiun 'Tawang' terlihat tertutupi dengan banyaknya pohon-pohon besar didepannya, namun jika saya perhatikan lagi, ternyata ada yang terlupakan atau malah dilupakan oleh pengurus bangunan tersebut, baik dari pihak stasiun, maupun dari pemerintah, yaitu ide awal arsitek JP de Bordes pendiri stasiun 'Tawang' tersebut. Jika kita melihat ke arah depan (ke arah jalan raya dari stasiun tawang), terlihat sebuah penampungan air yang semata-mata tidak 'disimpan' disana sebagai hiasan, karena setelah kita berjalan lebih jauh lagi dari stasiun 'Tawang', terlihat stasiun 'Tawang' yang berdiri dengan megah.
Dapat saya bayangkan bila tidak ada pohon-pohon besar yang menutupinya. Mungkin karena hal ini arsitek stasiun Tawang, JP de Bordes menempatkan sebuah kolam penyimpanan air didepan stasiun 'Tawang'.... agar pengunjung dapat menikmati kemegahan dari stasiun tawang tersebut. memeang bila saya melijat ke arah stasiun 'Tawang' dari seberang kolam penampungan air tersebut, tidak ada bangunan lain yang menutupinya.
Namun tidak hanya sampai situ saja ketakjuban saya pada perancangan ruang yang arsitek JP de Bordes buat. Selain ruang terbuka yang memberikan pandangan utuh pada stasiun 'Tawang' tersebut, ternyata jalan-jalan di depan stasiun tersebut memiliki maksud yang sama, yaitu agar stasiun 'Tawang' ini dapat terlihat dengan baik.
Pelajaran yang dapat saya ambl dari perjalanan kemarin adalah bahwa agar sebuah bangunan dapat dinikmati oleh pengunjung atau orang lainnya kita dapat mengolah landscape dan penataan ruang di sekitar bangunan tersebut.